Kembali persoalan agama, Tuhan dan spiritualitas dipertanyakan. Kedekatan jalinan makna antara Agama, Tuhan dan spiritualitas seolah hendak dibuka pelan-pelan dan coba dibongkar lagi – masihkah jalinan diantara mereka (agama, Tuhan, dan spiritualitas) bisa disebut relevan? Belum lagi pertanyaan banyak orang tentang ketiganya – ditinjau dari segi fungsi dan kebutuhan manusia – apakah selaras dengan kebutuhan orang konteks yang berbeda dan era kekinian? Dalam artian apakah jalinan ketiganya masih dapat disebut kontekstual dan fungsional?
Di awal tahun 2008 ini muncul satu buku yang diilihat dari judulnya saja sepertinya sangat menantang. Yaitu “Spiritualitas Tanpa Tuhan”. banyak orang tak setuju dengan judul ini. Bahkan di beberapa milis di internet, teramat banyak yang menyangkali, mengkritik – tapi juga tak sedikit yang setuju dengan judul tersebut.
André Comte-Sponville, penulis buku ini sepertinya ingin memisahkan konsep spiritualitas lepas dari lembaga agama dan entitas Tuhan. Menurutnya (Comte) pandangan ini tidak mereduksi atau hendak menafikan hakikat kehidupan spiritual, dalam arti yang sebenarnya (an-sich). Kendati demikian, disatu sisi kita juga tidak perlu menolak nilai-nilai dan tradisi-tradisi kuno, semisal Islam, Kristen, dan Yahudi yang telah menjadi bagian dari warisan kita, dan mengkristal, mendarah-daging dalam kehidupan kita hingga saat ini. Tetapi, kita mesti memikir ulang relasi kita dengan nilai-nilai tersebut seraya bertanya apakah nilai-nilai itu signifikan bagi kebutuhan manusia untuk berhubungan antara satu dengan lainnya dan alam semesta, kata Comte.
Untuk mendukung pandangan tersebut, Comte-Sponville menyajikan argumen dengan merujuk pada satu contoh real tentang dirinya dan spiritualnya. Banyak orang mengangap dia sebagai “ateis kristen”. Meskipun Comte seorang Ateis, namun tak sedikit pun dia menjauhkan dirinya dari ranah sosial historis dirinya sebagai seorang Katolik. Comte pun mengakui bahwa dia tak bisa luput dari apa yang dinamakan Katolik. Sebab Katolik merupakan “masa lalunya” yang telah mengkristal dalam benak dan memorinya. Karena itulah pandangan-pandangannya seringkali juga terpengaruh dengan kekatolikannya itu. Dengan ini Comte sedang menyodorkan dirinya sebagai contoh dari seseorang yang dapat meraih spiritualitas meski ia kehilangan keimanan pada Tuhan.
Bisakah kita hidup tanpa agama? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan? mungkinkah ada spiritualitas tanpa ada Tuhan yang menjadi sesembahannya? Atau, adakah sesuatu yang disebut “spiritualitas ateis”? Menjadi sulit untuk coba memisahkan antara Spiritualitas dengan Tuhan. Sebab keduanya memang tak mungkin dipisahkan. Pada dasarnya manusia yang diciptakan oleh Tuhan itu dibekali dengan potensi (natur) religius, natur beragama. Dengan natur itu manusia sadar bahwa dalam dirinya ada satu kekosongan batin yang butuh segera diisi. Dengan adanya natur itu manusia terus-menerus mencari satu entitas tertinggi, yang kita kenal dengan nama Tuhan itu. Dengan natur ini – ditambah dengan anugrah yang diberikan Allah pada kita yang membuat kita mampu beriman dan mengimani Dia yang patut diimani.
Seandainya ada spiritualitas tanpa Tuhan, lalu entitas mana yang sedang berhubungan (manunggal) dengan dirinya dalam tataran spiritualitas yang erat hubungannya dengan rasa dalam jiwa – sebagai bentuk manifestasi dari iman dalam diri? Entitas apa yang mengisi kekosongan batin manusia, sebagai jawaban atas natur religius manusia tadi? Mungkinkah ada sesuatu yang abstrak dan tak jelas hendak diimani? Kalaupun orang mengimani sesuatu yang tak jelas, bukankah dia sedang memosisikan sesuatu itu seperti Tuhan? Bukankah ini juga salah satu bentuk “teisme”? Lantas adakah spiritual yang ateis tadi? Tuhan adalah satu-satunya jawaban atas kebutuhan spiritualitas manusia. Karena itu apa yang dinamakan spiritual itu, pastilah teistik. Sepertinya teramat sulit menyetujui ada spiritual yang ateistik.
sumber google

















Posted by yogaswara on November 1, 2008 at 11:44 pm
Sebuah buku yang saya beli pada hari Kamis 30 Oktober 2008 di Toko Buku Gramedia Jl Gajah Mada Medan Sumatera utara.
1. Buku ini Berisikan ajaran Komunis ataupun atheis, penulisnya sendiri tidak paham arti spiritual…tak ada ruh yang tanpa Tuhan…Dia ada walau tak ada dalam pandangan mata fisik…dia ada dalam jangkauan mata Batin/Qalbu bagi orang yang beriman. Sayangnya sang penulis bukan orang yg beriman pada tuhan hingga tak bisa melihat Tuhan dengan Batinnya….
2. Ajaran Komunis ini mulai masuk secara halus ke Indonesia dengan banyak mengatas namakan Spiritual tanpa paham hakikat spiritual.
3. Penulisnya seorang komunis yang mengambil referensi terlalu sedikit terhadap isi buku ini, hingga dapat saya katakan dia korban dari kebodohan spiritual.
4. Penulis buku dulunya adalah seorang pemeluk agama Kristen yang tidak memperoleh apapun dari ajaran yang dianutnya sehingga dia merasakan kehampaan dalam beragama, kemudian dia mencari kebenaran beberapa agama tanpa mendalami serta berdialog dengan pakar-pakar agama khususnya Islam (disini saya khususkan karena penulis buku tidak menemukan suatu kebenaran adanya tuhan dalam Islam)
5. Tanpa referensi sumber yang ahli dari kalangan Agama, Penulis langsung loncat mencari referensi dari sumber-sumber ajaran komunisme, sehingga ajaran atheisme yang dianutnya semakin kuat.
6. Menurut sayapun Penulis termasuk seorang yang malas dan terbatas dalam belajar, mengapa.? Seharusnya dia membedah satu persatu tuhan dari setiap agama, memang semua agama berasal dari Tuhan yang satu namun Tuhan yang mana karena dalam Islam tuhan yang ada hanyalah ALLAH SWT.
7. Keterbatasan penulis buku ini terlihat jelas kelemahannya, maka ketika kita tantang dengan kebenaran Al Quran yang ada, seperti, bagaimana kebenaran ayat-ayat Embriologi, Big Bang, Geologi kelautan dll. Atau mungkin penulis buku harus banyak bertanya pada seorang Harun Yahya.
8. Buku ini tidak layak baca, penulisnya banyak bercerita tentang dogma tapi dia sendiri terdogma dan mendogma pembaca dengan caranya.
9. Yang membuat saya tersenyum adalah ketika penulis menyatakan bahwa dia adalah seorang ”atheis yang beriman (faith)” tanpa mengetahui arti/hakikat iman sesungguhnya. Ada baiknya si penulis belajar dulu tentang Iman Islam pada anak saya yang berumur 14 tahun.
10. Penulis buku mengaku seorang filsafat sejati namun, ketika mempelajari referensi untuk bukunya dia tidak mempelajari hakikat dari ajaran agama.
11. Penulis tidak paham tentang keberadaan Tuhan yang sesungguhnya dekat dan bisa dirasakan, seperti bila kita tanya pada anak berumur 8, Tahukah dia tentang Definisi dan arti dari ’KASMARAN’ atau ’CINTA’ saya jamin tidak tahu, tapi bila kita bertanya pada seorang dewasa tentang hal tersebut saya yakin dia akan menjawab TAHU..! atau minimal PAHAM….sama halnya dengan keberadaan Tuhan yang hanya bisa dipahami oleh orang2 yang beriman (bukan iman versi penulis buku ini) dan bisa dirasakan NYATA adanya bukan teori saja (kalo ingin belajar baca buku Berguru pada Allah Karangan Abu Sangkan), kesimpulannya penulis buku ini masih seperti anak2 yang belum paham keberadaan Tuhan yang dekat.
12. Ada baiknya Penerbit dan Penjualnya segera menarik buku ini karena menciptakan ajakan, ajaran atheis, komunis secara dogma karena keterbatasan ilmu sang penulis yang diliputi KEBODOHAN SPIRITUAL.
Posted by pelajar on Januari 20, 2009 at 4:15 am
buku ini adalah filsafat, yang mempertanyakan kembali dan mengkritisi keyakinan akan kebenaran yang telah ada, agar lebih mampu berpikir bijaksana dan dewasa. tentu orang yang mampu berfilsafat hanyalah orang dewasa. jika masih belum dewasa pribadinya maka kecenderungannya seseorang mengambil sikap dan penilaian dengan acuan:
1. kebenaran adalah caranya sesuai dengan aturan, hukum, atau agama. atau
2. kebenaran ditentukan oleh tujuannya (caranya salah ga’papa).
tapi orang dewasa tidak berpikir senaif itu. tentu ada banyak pergumulan yang dibahas dalam filsafat.
boleh saja kalau kita mengklaim bahwa hanya Allah yang benar. tapi kita semua manusia sehingga naif kalau kita mengklaim bahwa kita tahu kebenaran Allah, kita kan bukan Allah.
apalagi agama, agama itu buatan manusia. itu adalah produk kebudayaan masa lalu.
walaupun agama membawa pada jalan hidup yang benar tapi jelas juga buktinya bahwa agama telah membawa pada dosa dan kekejian, peperangan, pembantaian, kesadisan, permusuhan bukan hanya terhadap agama lain, terhadap agama yang sama namun berbeda aliran agama juga berperan membangkitkan sekejian.
kenapa itu terjadi? tentu ajaran Allah tidak akan salah, tapi manusia yang menggunakan agama menafsirkan firman Allah untuk kepentingan diri atau kelompoknya. jadi firman Allah ternyata hanya dijadikan alat, asal sudah jadi pemimpin agama trus semua omongannya dianggap benar.
hati hati !!
memang bagus kalau kita punya rasa solidaritas dalam kelompok (agama) kita tapi kalau solidaritas itu berlebihan kita harus waspada sebab banyak sekali buktinya bahwa solidaritas pada kelompok justru menumbuhkan kekejaman dan kekejian terhadapa kelompok lain.
biarlah yang ateis mempunyai pergumulan hidup spiritualitasnya sendiri. agama manapun tidak berhak menghakimi. harun yahya pun tidak berhak sebab dia juga manusia yang tidak tahu persis apa kehendak Allah. hanya Allah yang tahu.
kalau kita mau jujur sebenarnya Kitab sucipun adalah produk budaya manusia yang sangat terbatas sekali dan semua hanya tafsiran manusia. apa buktinya?
mo tau? kalau ada agama yang mengklaim satu-satunya yang paling benar, pasti klaim agama itu salah. karena dalam satu agama saja, ternyata banyak aliran dan tafsirannya beda-beda bahkan bisa bertenangan. mana yang paling benar? tentu kelompok saya dong!!!
yang lain bilang : itu kan menurutmu… yang sok tahu!!
jadi kebenaran pasti terkait subjektivitas.
jangan kita paksa orang lain menuruti keyakinan kita. ini semua di ranah rasional bukan klaim iman (agama). kalau dibawa-bawa ke iman agama pasti ilang deh sifat ilmiahnya, bisa sih bergaya ilmiah tapi dipaksakan dan naif seperti harun yahya.
kalau mau jujur sebenarnya ada banyak kesalahan pada kitab suci agama karena sebenarnya kitab itu produk budaya masa lalu..(bisa dibilang kuno dan tidak relefan lagi).
memang ada kebenaran dalam agama, tapi bukan yang kaku seperti ditulis dalam kitab buatan manusia yang dianggap suci itu.
tapi makna dan jiwa dari ajaran agama itu yang perlu kita hidupi. kalau begitu tidak ada lagi bahasa fanatisme merendahkan agama lain juga yang tidak beragama.
selamat berfilsafat secara ilmiah dan dewasa
Posted by mikir-mikir on Januari 20, 2009 at 4:39 am
wah komunis kan tidak sama dengan ateis. coba deh pelajari dulu apa artinya mas yoga. kalau pakar agama mau berdialog tentu masing-masing pihak perlu terbuka dulu untuk berdialog. kalau berdialog tapi belom-belom sudah mengklaim kebenaranya sendiri dan menyalahkan yang ateis ya… namanya bukan dilaog kalau sebelumnya sudah menyalahkan dulu.
filsafat itu perlu bijaksana, tanda-tanda bijaksana dan dewasa tentu tidak banyak mengklaim pihak lain salah dulu dan hanya yang diyakini yang benar.
emangnya mas yoga pernah ketemu Tuhan? jangan-jangan itu hantu.
jangan emosi dong biarkan yang ateis bicara, kalau kita teguh pada iman kita dengan landasan iman yang benar tentu hati kita damai, dan kita bisa mengajak mereka untuk lebih mengenal Tuhan kita yang baik, bukan yang nyalah-nyalahin orang lain yang menurut kita belum tahu. (padahal bisa saja sebenarnya mereka yang lebih tahu dari pada kita)
iman kita jangan hanya belandaskan fanatisme, tapi dengan perbuatan yang mewujudkan keterbukaan penerimaan dan kedamaian dalam hidup bersama. kita ga rugi kok belajar dari mereka kan wawasan kita bertambah, kenapa harus takut sama wacana-wacana orang ateis? inikan wacana ilmiah… kalo takut jangan-jangan iman kita tipis hanya fanatisme saja.
ok mas yoga, mo berfilsafat? buka dulu pikiran yang sempit…
Posted by naikdelman on Februari 23, 2009 at 4:51 pm
Bisa dan masuk akal spiritualitas tanpa agama. Spiritualitas adalah suatu keadaan spirit yang dapat berarti semangat dan/atau roh atau yang berhubungan dengan keduanya. Kalo aku lebih mengartikan spiritualitas sebagai suatu semangat nalar manusia untuk terus menerus berusaha mencari kebenaran dan kebaikkan mutlak. Agama adalah suatu produk budaya suatu komunitas manusia yang lebih bersifat herediter dan emosional. Sedangkan tuhan adalah alam semesta ini, bukan siapa2, bukan apa2. Jadi kalau kita ngaku2 bertuhan dan beragama tapi tetap merokok, membuang sampah sembarangan, menebang pohon, bergosip, mencuri, korupsi, menyakiti sesama manusia dan alam dll dll dll, berarti itu justru menjauhkan kita dari spiritualitas, agama dan tuhan itu sendiri. Jadi mereka yang tidak menyayangi alam semesta ini (manusia, hewan, tumbuhan, batu, air, udara dll dll dll) itu sama saja dengan tidak bertuhan dan tidak beragama….hehehehe..Salam Indonesiaku
Posted by naikdelman on Februari 23, 2009 at 5:01 pm
Eh sorry berat ternyata saya salah menyimak judul diatas, saya kira spiritualitas tanpa agama taunya spiritualitas tanpa tuhan….spiritualitas tanpa tuhan? Menurut saya ya tidak bisa, sebab kebenaran dan kebaikkan itu berhubungan erat dengan alam semesta yang disitu justru penuh dengan rahasia alam yang perlu digali dan dibuka oleh manusia dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, demi mencari kebenaran dan kebaikan mutlak, yang masih tersembunyi dan penuh misteri…..Salam Indonesiaku