sms

Rasanya tidak perlu lagi penjelasan panjang-lebar apa itu SMS (short message service). Semua tahu kalau SMS adalah salah fitur pada telepon genggam yang berfungsi untuk berkomunikasi lewat pesan pendek tertulis. Persis pesawat pager yang populer sebelum handphone bertebaran. Bedanya, pemegang ponsel mengetik sendiri pesan yang mau dikirim, tidak ada operator lagi.

Belakangan ini SMS bisa disebut sebagai fenomena baru masyarakat kita berkomunikasi, atau lebih pasnya mereka para pengguna handphone. Sejauh mata memandang di lingkungan kerja maupun tempat umum, selalu saja kelihatan mereka yang sibuk memijit-mijit tombol handphone dan tidak menempelkan speaker ke telinga layaknya bertelepon. Mereka itu pasti sedang ber-SMS ria.

Ada sederet alasan mengapa orang memilih SMS ketimbang berbicara langsung. Kebanyakan mengaku lantaran tarifnya murah, sekitar Rp 350 untuk setiap pesan yang dikirim, ketimbang lisan yang pulsanya lebih mahal. Selain itu pesan lewat SMS pasti sampai sementara kalau bicara terkadang terputus karena kurang kuatnya daya sinyal, misal di ruang parkir bawah tanah.

Apapun alasannya, SMS adalah teknologi yang telah mengubah cara pandang maupun cara kita melakukan sesuatu termasuk dalam hal komunikasi sosial alias gaul. Yang ringan saja, misal untuk saling bertukar cerita humor. ”Daripada ngelamun waktu naik angkutan umum atau menunggu mending nge-SMS, karena kalau ngomong pasti orang-orang sekitarku terganggu,” kata seorang teman.

SMS banyak dimanfaatkan bagi hal positif seperti untuk saling mengirim pesan-pesan penyemangat, kabar duka, bahkan ajakan sholat tahajud yang dikirim kala lewat tengah malam. Namun tak kalah banyak adalah cerita-cerita porno yang membuat basbisbus alias basa basi busuk pergaulan.

Dalam bisnis jelas SMS amat membantu karena bukankah jalannya bisnis tergantung komunikasi dan informasi? Makanya tak usah heran ada pebisnis yang tidak cukup satu pesawat handphone yang ada di sakunya. Mereka itu tak ketinggalan memanfaatkan SMS.

SMS juga sebuah strategi. Kini ada pameo ”Sampaikan kabar buruk dengan SMS dan kabar baik dengan omong.” Ada teman yang pernah mengaku bahwa dia mengabari bosnya melalui SMS kalau target tidak tercapai, sebaliknya kalau hari itu dapat memenuhi keinginan bos, maka dia akan langsung lisan. ”Yes! Bos, semua telah berjalan baik,” kira-kira begitu.

Demikian hebatnya pengaruh SMS sampai mampu menembus larangan untuk berbicara di ponsel. Anda mungkin pernah melihat atau bahkan menganggap biasa ada beberapa orang yang terus memainkan handphone dalam suatu rapat, atau dalam sebuah seminar di mana telah diumumkan handphone dimatikan.

Mereka yang terus asyik dengan ponselnya mungkin mengira larangan pemakaian handphone hanya berlaku untuk tidak berbicara karena jelas akan mengganggu. Jadi tidak masalah bila dering handphone diatur ke nada bisu (silent), artinya SMS masih bisa difungsikan karena handphone tidak sampai dimatikan.

Sesungguhnya larangan tetap menghidupkan handphone dalam berbagai kesempatan bukan hanya karena dering atau suara mulut amat mengganggu orang-orang lain di sekeliling. Tetapi anjuran tersebut karena gelombangnya dapat mengganggu sistem di sekitar, seperti di dalam pesawat terbang, pabrik, rumah sakit, dan kantor. Sedangkan pada rapat atau seminar, handphone perlu dimatikan karena dapat mempengaruhi pengeras suara (sound system) berdengung kencang dan menyebabkan sakit pada telinga.

Selain itu secara etika, rapat, seminar, lokakarya, dan pertemuan lain seperti peribadatan bisa rusak cuma karena dering. Mereka yang tidak patuh mematikan handphone apalagi yang masih sibuk dengan SMS pasti tidak akan fokus terhadap materi pembicaraan.

Sementara mereka mengira tak ada yang mengetahuinya karena biasanya ponsel disembunyikan di bawah meja dan memainkannya sambil merunduk. Padahal orang di samping maupun di belakangnya tahu dengan jelas dan menjadi tak nyaman. Dan, kalau pun dia duduk di paling belakang maka sebetulnya pembicara di depan amat jelas melihatnya.

Kalau sudah begitu mana mungkin diperoleh hasil optimal dari sebuah pertemuan. Gara-garanya, ada beberapa orang asyik ber-SMS dan tak fokus dengan topik pembicaraan. Sementara pembicara menjadi merasa diabaikan, tidak dihargai dan sia-sia, sehingga dia tak sepenuh hati lagi membagikan informasi, pengalaman, dan pengetahuan.
Akhirnya, karena setitik nila rusak susu sebelanga.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: